
Siapa bilang pulang kampung membuat kita buta sejenak akan berita? Pulang kampungku kali ini justru berbeda. Ada berita atau semacam pelajaran hidup yang saya dapatkan.
Tersebutlah Anita. Seorang waria asal kampung sebelah. Dia tampak bukan seperti waria, namun jika sudah bicara dan diperhatikan tingkah lakunya itu, tentu tahu dia seorang waria. Saya mengenalnya dari saudara sepupu perempuan saya yang mengajak saya ketika akan potong rambut. Si Anita ini baru membuka salon perawatan rambut. Tertarik karena keingin tahuan lebih lanjut akan kehidupannya, saya-pun ikutan perawatan. Pertama hanya guyonan khas waria. Endel, centil. Ah..itu sudah menjadi cirinya, namun lambat laun, dia mulai cerita yang mungkin akan membuat saya tercengang.
Nama lahirnya Antoro. Dia seorang yang biasa saja. Dari keluarga ekonomi sulit. Ayahnya seorang pengangguran yang kerjanya hanya bisa menyakiti ibunya terus setiap hari. Ibunya selalu dibentak, dipukul, bahkan dianiaya secara batin. Setiap hari selalu pemandangan yang mengiris batinnya itu ia dapatkan. Antoro kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua, apalagi uang jajan, dia hanya harus puas mendapati ketela pohon yang disediakan di meja makannya setiap pagi.
Dendam! Jelas sekali. Figur ayah yang pengangguran, suka memukul, sudah menjadi noda hitam dalam dirinya. Dia sudah tidak mau melihatnya lagi. Tapi, dia tidak punya kemampuan untuk dapat menjadi pengganti ayahnya dalam memimpin keluarga, meski secara fakta tidak ada figur itu dalam keluarganya.
Lambat laun dia mulai ikut magang di salon² terkemuka, mulai dari tukang sapu sampai dipercaya pegang rambut, dia lakoni. Dan, taraaaaa….dia sudah berani membuka salonnya sendiri. Ibarat toko, nggak akan ada yang beli di toko baru kalau nggak beda dari toko yang lama kan? Maka dia berani mengambil resiko untuk menjadi seorang waria, karena belum ada salon waria di situ.
Wah, bukannya suatu pengorbanan besar? Karena resiko yang diambilnya itu, sekarang dia sudah berhasil mendanai perceraian ibunya, dan menyekolahkan adiknya. Sempat saya memberanikan bertanya, kemana nanti masa depannya akan dibawa? Apa jawabnya?
Saya kan juga masih manusia biasa. Masih laki-laki. Tentu saya akan membina rumah tangga dengan wanita sholehah, tapi itu nanti mbak, kalau saya sudah sukses
Apa yang ada dalam benakku? Mempertanyakan apa yang telah aku sembahkan untuk ibuku hingga saat ini? Ya. Dan tahu jawabannya? Belum ada.