Saya sangat yakin jika semua orang di dunia ini pernah memiliki rasa iri. Entah iri kepada teman, saudara atau bahkan pada artis
. Ada yang menjadikan iri itu sebagai acuan untuk menjadi lebih baik, namun tak jarang yang menjadikannya sebagai bahan penghancuran bagi subjek yang diiri, terkadang iri yang seperti itu akan menjadi bumerang baginya sendiri.
Pun saya. Iri dengan kesuksesan salah satu teman saya yang dengan begitu mudahnya bisa diterima menjadi pegawai tetap salah satu BUMN begitu kami lulus SMK. Saya sering bertanya mengapa saya tidak bisa seperti dia, punya nasib semujur itu siapa yang nggak ingin? Namun, saya termasuk orang yang menjadikan iri saya itu sebagai acuan untuk dapat bekerja keras dan belajar dengan harapan nantinya saya bisa mengikuti jejak dia.
Sabtu kemarin, saya mendengar kabar bahwa ibunya sedang di rawat di RSAL dr.Ramelan Sby, niat hati ingin menjenguk Senin sepulang kuliah jam pertama, namun apa yang mau dikata, sebelum kami sempat berkunjung, dia mengabarkan bahwa ibundanya sudah tiada. Betapa kagetnya saya dan teman-teman mendengarnya. Perasaan sedih bercampur penyesalan mengapa kami tidak menjenguk lebih awal.
Penyesalan yang tiada kira lebih dirasakan pada Intan,salah satu sahabat saya, yang disms secara khusus oleh teman saya tadi. Dia minta Intan untuk datang menjenguk ibunya. Namun Intan yang saat itu sedang sibuk kerja, ngerjain tugas kuliah, dll baru sempat akan menjenguk senin itu, namun ternyata Allah berkata lain. Dia merasa tertegur telah mementingkan kesibukannya tanpa mengindahkan temannya yang sedang membutuhkannya di sana. Sangat membutuhkan mungkin.
Saya ikut merasakan betapa sedihnya Intan mengetahui semua sudah terlanjur terjadi. Saya berharap saya tidak perlu diberi teguran seperti itu oleh Allah untuk menjadikan saya mengerti apa arti toleransi dan kesetiakwanan.
Saat ada penarikan dana amal untuk diberikan kepada teman saya yang terkena musibah tadi, banyak yang saya ajak untuk takziyah ke sana, banyak yang bilang sibuk dan nggak bisa ke sana, mungkin benar mereka sibuk, sama seperti Intan saat itu, tapi apa nggak adakah waktu sedikitpun buat menghibur temannya yang terkena musibah itu? Nggak relakah sejam saja meleburkan kebahagiaan diri sendiri demi membangkitkan semangat hidup sahabat? Nggak bisakah menyibukkan diri menghibur sahabat dan memberikan keteduhan di hatinya, memberi tahu dia bahwa kita selalu ada untuk dia. Sesekali! Hanya SESEKALI!! Toh Allah juga tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya yang nggak bisa dilalui. Nggak mungkin dong, kita akan pernah bilang “Nggak mau ah..gw uda capek ngehibur dia terus. Hidupnya yang ada hanya bencana.”
Saya tertegun ketika membaca status GTalk salah satu sahabat saya, “Sebagian yang kita dapatkan adalah milik orang lain.” Saya benar² tergugah dan menyadari betapa benar apa yang dikatakannya, bukan hanya terbatas pada harta, namun kebahagiaan kita sebagian adalah milik orang lain…pelajaran lain yang saya petik adalah, semua sudah ada porsinya. Allah memang Maha Adil. Saya tidak akan iri pada teman saya itu lagi. Ya..sekali lagi semua sudah ada porsinya…

postingan yang bagus, nDutz
semua sudah ‘pas’ bukan?
tidak lebih dan tidak kurang
Apa yg kita rasakan & nikmati hari ini adl yg terbaik buat kita. Dan benar, itu pas!
Saya pun sering melihat mereka yang seolah terlihat sempurna dan mujur, ternyata kalo dilihat lagi ke dalam… sama kok seperti kita. Manusia juga dengan semua kelemahannya.
Bersyukurlah selalu
Semoga kita dapat memetik ribuan hikmah dalam kejadian tersebut.
irilah dalam hal ketaatan atau ibadah…^_^
Nice writing, prit
love it …
tulisannya bagus.
betul betul betul… semua ada porsinya, dan membuat kita kaya adalah rasa syukur
<< kalau ini dilakukan udah deh nggak bakal ada rasa iri2an
lah kan udah cukup semuanya
Artikel yang menarik sekali, semoga sukses selalu dan saya tunggu kunjungan anda di website saya.thx
Saya suka dengan postingan yang ini ‘Ngel.
Musti ada kejadian dan peristiwa yang bisa kita ambil hikmahnya dari ini semua.
Mudah2an kita bisa terus ingat u/ sering2 bersyukur atas nikmat yang diterima dari Tuhan sesuai porsinya ini…
Memang manusia tidak sempurna..
Keberhasilan karir juga akan merugikan bidang lainnya, seperti sosialisasi pada teman lama, masyarakat dsb nya, apalagi jika berkarir di jakarta, pergi pagi pulang malam….bahkan harus merelakan waktu yang berkurang untuk keluarga.
Disatu sisi, hal tsb terpaksa dijalankan, karena biaya hidup dan biaya pendidikan yang mahal dan tak terjangkau jika yang bekerja hanya salah satu.
Jadi, kita memang suka sawang sinawang….
setiap orang dari milyaran di dunia ini tentunya memiliki jalan yang sudah ditentukan
andai kita menemui jalan menyakitkan, bukanlah suatu kutukan
andai kita melenggang di jalan mengasyikan, tentunya harus ingat bahwa suatu saat nanti akan ada rintangan
“Sebagian yang kita dapatkan adalah milik orang lain”. subhanallah, kalimat penuh makna, meskipun kadang dalam prakteknya “semua yang kita dapatkan adalah milik kita seutuhnya”. lindungilah kami Gusti, dari kikir dan rakus….
sepertinya saya juga pernah mengalami hal seperti diatas…tapi waktu itu saya masih sempat menjenguk teman saya, malam harinya setelah saya jenguk..teman saya pun pergi untuk selama – lamanya..semoga amal ibadahnya diterima disisi NYA
Hidup itu misterius yah. Kita cuman bisa menjalani dan berusaha tampil sebagus mungkin.
::cheers::
yang pas itu memang enak, tidak lebih dan juga tidak kurang
sedih..:|
postingannya bagus, ngingetin kita biar ga boleh iri sama orang laen..penyakit hati yang paling gampang masuk ke diri kita
ada yg diciptain jadi jempol, telunjuk, sampai kelingking. semuanya berguna dan punya fungsinya masing2.. sbnrnya komen saya ini basi yah huaha
Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah..
kaya’ lagu d’masiv..
jadi, kita sebagai manusia harus banyak bersyukur dan terus berusaha..
salam kenal..
menerima..bersukur..dan mengoptimalkan nya
sebenarnya gak apa-apa jg sih iri. tp iri-nya dibikin jd positif aja. buat pemacu diri sendiri supaya bisa jd lebih baik.
aku jg sedih waktu ayahnya temen dekatku meninggal dan aku ga bisa ke rumahnya karena gak lg berada di kota yg sama.
turut berduka utk temenmu.
tp aku tetep telepon, tetep sms….
salam kenal..!!
mantap postingannya.. ngena banget..!!
gw gak pernah iri ama orang lain… gw hanya sebel ama takdir
Nice Post.. Seperti kata pepatah, rumput milik tetangga seringkali terlihat lebih hijau. Sekarang tinggal bagaimana caranya kita bersyukur dengan rumput yang kita miliki sambil terus termotivasi untuk menghijaukannya
Yup mbak…..nice…jadikanlah “iri” menjadi pengambilan langkah dan pemikiran yang lebih positif….meski rasa iri memang sangat melekat pada setiap makhluk yang bernama “manusia”…:)
rumput tetangga memang terlihat lebih hijau. padahal kadang tetangga itu yg iri pada kita. *eh*
tidak kurang tidak lebih…
Hmm
hidup haruslah seimbang, pembelajaran Allah terhadap kita, banyak sering kita abaikan
saling berbagi, menolong orang lain, membuat semuanya menjadi berarti adalah hal yang disukai sama Allah De…
Mengenai Temen dan Ibunya, itu sudah takdir dan rejeki Allah dan kita tak ada haq untuk meng : otak – atiknya.
Dan setiap pembelajaran tak lagi kita dapat tarik waktunya, kita hanya bisa mengambil hikmah akan itu semua
Itu fikiran atas posting mu
Oh ya bila sempet, mampirlah ke blog ku, mungkin kita bisa share apa saja disana nanti, makasih ya
http://satriojatim.blogspot.com/
http://obrolanblogger.blogspot.com/
http://indonesiatraveling1.blogspot.com/
salam – satrio
In truth, immediately i didn’t understand the essence. But after re-reading all at once became clear.
Are you a professional journalist? You write very well.
ikhlas menerima
ajib deh
Maaf saya baru ngeblog lagi nih hehe.
Salam persohiblogan
Pingback: Damainya Hidup Jika Semua Terpenuhi Porsinya :) | Angel of Elizabeth
postingan yg menarik…
useful, nice…
Visit too:
Blog Q