DISCLAIMER : Ini murni pendapat pribadi saya
Pernah mendengar orang yang akan menikah tiba² kandas di tengah jalan, lantas menikah dengan orang lain?
Semacam Gendis. Gadis manis kembang desa yang merobekkan puluhan hati jejaka kampungnya karena akan segera menikah dengan putra tuan tanah, Sunarto. Jelang 3 hari sebelum pernikahan dilangsungkan, Gendis membatalkannya. Dia merasa belum siap untuk menikah, padahal diketahui warga kampung itu, Gendis dan Sunarto sudah saling menyayangi begitu lama.
Sunarto yang tak tahan diperlakukan begitu oleh Gendis memilih pergi ke luar pulau, dan tidak kembali lagi. Lain halnya dengan Gendis. Dara satu itu, kembali membuka kompetisi jejaka kampung. Mulai dari pedagang sayur sampai juragan tahu menjajal peruntungannya menggaet hati Gendis.
Itulah cinta…mudah datang, mudah pergi. Tidak ada siapapun yang bisa menjamin 100% kalau cinta tidak akan berubah.
Lalu bagaimana dengan keyakinan? Keyakinan itu menurut saya tidak akan berubah. Jika ada orang yang berargumen sudah tidak yakin akan suatu hal lantas meyakini hal yang lain, menurut saya itu konyol. Sebenarnya itu bukanlah suatu keyakinan itu hanya kecintaan. Sebagaimana iman kita. Kita yakin akan adanya Tuhan kita masing² (dalam hal ini Tuhan saya adalah Allah SWT), keyakinan itu disertai dengan kecintaan kita terhadap-Nya, itulah yang membuat naik-turunnya iman kita, namun kita tetap yakin bahwa Dia adalah Dzat Maha Agung. Tapi jika kita sudah bilang tidak yakin lagi kepada-Nya, lalu memilih menjadi seorang Atheis, maka sebenarnya di dalam hatinya tidak pernah ada keyakinan, hanya ada kecintaan, dan cintanya juga sangat rapuh. Naudzubillah min dzalik…semoga kita terhindar dari semua itu.
Seperti katanya, agama adalah hal paling pribadi dan paling sensitif bagi semua orang. Jangan pernah menyinggung tentang itu, dan hormatilah semua agama, jika kamu ingin dihormati juga. Dan, kawan, saya ingin kita memastikan sendiri dalam hati kita masing², sudahkah kita meyakini Tuhan kita? Ataukah kita masih saja terjebak dalam kerapuhan cinta?
memang sebaiknya saling menghormati dan menghargai karena keyakinan tidak dapat di paksakan
Mudah2an saya gak begitu Ngie…
Saya sudah melewati banyak cobaan dalam hal melegalkan our marriage…. but yg penting saya tidak merapuhkan kepercayaan diri saya..
Siapa yang menyinggung siapa ?
sori lagi nggak nyambung, menikmati tulisannya aja
Keyakinan dan kecintaan, keduanya hal yang sangat pribadi.
Cinta itu justru kuat, karena dengan cinta kita yang lemah menjadi lebih kuat.
Namun kata anakku, cinta itu indah, menyenangkan tapi juga menyakitkan..nahh lho!!
agama, cinta itu personal banget.. jadi org lain gak berhak ikut campur.. sekedar menasehati tak apa.. tapi kalo lebih tdk pantas… *eh, salah ya?
akupun pernah posting bentuk cerpen kandasnya sebuah rencana karena perbedaan pandangan
kalo dari awal sudah merasa beda banget apalagi menyangkut agama, mending jangan main hati. lebih baik tidak memulai daripada akhirnya akan semakin berat tuk melepaskan
semuanya seolah menjadi satu